CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »

Ahad, 25 Januari 2009

Hamdan: Jangan Dikira Kami Akan Menyerah





26/01/2009 - 02:18 Beirut – Infopalestina: Wakil Gerakan Hamas di Libanon, Usamah Hamdan menegaskan gerakannya akan terus memasukkan senjata ke Jalur Gaza dan Tepi Barat. Setelah penghentian perang yang dimulai pada 18 Januari lalu, Hamas akan melanjutkan mempersiapkan diri kembali.

Hal tersebut disampaikan Hamdan saat operasi di kantor UNESCO di Beirut, Ahad (25/01). Hamdan mengatakan, “Kami tidak akan menyerah memasukkan senjata ke Jalur Gaza dalam puncak perang dan di bawah bombardemen.” Dia menambahkan, “Kepemilikan senjata adalah hak kami. Kami akan melanjutkan memasukkan ke Jalur Gaza dan Tepi Barat. Jangan dikira kami akan menyerah terhadap prosedur yang menghadali senjata perlawanan.”

Dia melanjutkan, “Kami yakinkan bahwa sejak hari pertama penghentian serangan, perlawanan telah mulai mengembalikan apa yang hilang dan mengembangkan apa yang ada padanya.”

Mengenai prosedur baru yang akan diberlakukan untuk menghentikan masukkan senjata ke Jalur Gaza, Hamdan mengatakan, “Orang yang mengira bahwa beberapa pesawat atau kapal pangkalan pesawat bila mengawasi laut, serta mengira bahwa teknologi satelit mungkin bisa memantau terowongan-terowongan maka mereka sedang menghayal.”

Dia menyatakan, memasukan senjata sebelum ini bukanlah mudah namun butuh perjalanan sangat sulit dan berat. Banyak pejuang yang gugur, ditawan atau hilang dalam upaya memasukkan senjata tersebut. Namun demikian senjata tetap sampai ke Jalur Gaza dan akan terus sampai ke sana. “Dan di tengah-tengah kesulitan yang terus bertambah namun kami siap untuk meniti semua kesulitan dan semua yang mustahil agar perlawanan terus berjalan dan menang,” tegasnya.

Pernyataan Hamdan ini menyusul kesepakatan yang dicapai antara Israel dan Amerika pada 16 Januari lalu. Keduanya menyepakati perjanjian bilateral yang bertujuan memerangi penyelundupan senjata ke Jalur Gaza. Hamdan berharap pertempuran yang akan datang mempertemua dua pertempuran di Libanon dan Palestina, untuk menghapuskan dan menyudahi penjajah Zionis Israel.

Di petik dari

Keuntungan Politik Hamas Pasca Pertempuran Gaza


Salim Nashar
El-Hayat London

Setelah Hamas mengumumkan gencatan senjata, Sekjen Hizbullah, sayyid Hasan Nasrollah langsung menyampaikan selamat kepada rakyat Palestina atas kemenangan yang mereka wujudkan dalam menghadapi agresi Israel ke Jalur Gaza.

Harian New York Times edisi Sabtu kemarin mengakui bahwa kegagalan Israel dalam agresinya mematahkan ketegaran Hamas sebagai bentuk kemenangan perlawanan Palestina. Terutama unjuk rasa dan aksi solidaritas publik yang memenuhi jalan-jalan di Jalur Gaza pada Selasa lalu. Ratusan pengunjuk rasa itu mendukung Hamas dan Jihad Islami. Aksi dan unjuk rasa itu diikuti oleh keluarga dan rekan korban agresi Israel yang berjumlah 1300 orang meninggal, 400 di antaranya anak-anak dan perempuan. Ini bukti tegas bahwa mereka mendukung dan mengakui pemerintah Hamas.

Para pengamat militer di media-media barat cenderung meyakini bahwa penarikan Israel yang mendadak menyembunyikan pengakuan atas kegagalan operasi Cast Lade. Penyebab kegagalan diperkirakan adalah adalahh karena tank-tank Israel yang mengepung kota Gaza selama dua pekan tidak membuat 20 ribu perlawanan Palestina menyerah bahkan mereka menunggu operasi syahid.

Dengan tema “Keberhasilan Hamas” Tsevi Berail dalam harian Israel Haaretz menulis artikel yang menegaskan munculnya efek negatif politik penghancuran di Gaza. Ia menyebutkan sejumlah kerugian yang dialami oleh Israel, di antaranya Olmert gagal dalam hubungannya dengan Turki, negara yang tidak berpihak yang membentangkan jalan memulai perundingan soal dataran tinggi Golan. PM Israel pernah meminta langsung saat agresi Gaza, menawarkan kepada Taeb Erdogan pentingnya perundingan langsung dengan Suriah.

Namun Erdogan justru menyatakan bahwa tawaran itu tidak lebih hanya mengelabui Syria, Hizbullah dan Hamas karena Israel ingin gencatan senjata. Erdogan menolak pembicaraan telepon dan membiarkan Jaksa Agung Turki menutup aktifitas kedutaan besar Israel di sana.

Pertama kali, Jordania secara resmi mengingatkan dampak yang sangat berbahaya aksi terorisme Israel. PM Jordania, Nadir Adz-Dzahabi di depan parlemen mengisyaratkan kemugkinan dievaluasi hubungan dengan Israel jika operasi dendam Israel di Jalur Gaza terus berlanjut.

Qatar secara politik masuk dalam poros “menolak” Iran dan Syria. Namun secara diplomasi masih tercatat dalam poros “moderat” karena ia menjadi representasi dari KTT perdagangan negara-negara Arab di Doha. Namun Amir Qatar Hamd bin Khalifah mengumumkan pembekuan KTT menunggu peristiwa-peristiwa yang ada.

Setelah menyebut negaranya sebagai sumber utama terorisme di dunia, Berail mengakui bahwa militernya melakukan aksi spekulasi memaksa Turki membekukan hubungannya dan berpindah ke poros “memusuhi” setelah berada di poros “moderat”. Qatar diperkirakan akan menjadi mederator antara Hizbullah dan Hamas.

Berdasarkan data-data perubahan di atas, Hamas diuntungkan secara politik dalam operasi militer Israel ke Jalur Gaza. Dan ini harus dimanfaatkan untuk semakin memperoleh dukungan di tingkat regional dan internasional. Apalagi Hamas sekarang sedang mengalami tuduhan menyabotase masalah Palestina dalam konflik kepentingan dan bargaining di Timur Tengah. Yakni dengan menjadikan masalah Palestina menjadi cara Hamas menciptakan poros tertentu. Kesalahan ini persis seperti yang dilakukan oleh Yaser Arafat pada perang teluk II yang menjurus Kuwait mengusir mengusir lebih dari 300 ribu lebih pengungsi Palestina.

Pernyataan raja Abdullah bin Abdul Aziz di KTT Kuwait mengagetkan, bahkan untuk pejabat luar negeri Saudi sendiri. KTT akhirnya menyerukan sebuah kesepakatan dimana Libanon menerima perimbangan, pendekatan dengan kaidah s – s yakni berdamainya Syria dan Saudi. Raja Abdullah Saudi menyerukan keada Arab agar membuang perbedaan-perbedaan dan perselisihan antara mereka. Sebab persatuan adalah senjata perlawanan menghadapi Israel.

Di petik dari

Qardlawi: Sebagian Pemimpin Arab Berharap Gaza Kalah Israel Menang


Doha – Infopalestina: Dr. Yusuf Al-Qardlawi, ketua asosiasi Ulama Muslim Internasional menyampaikan kritik kepada pemimpin-pemimpin Arab - yang tidak disebutkan namanya – soal apa yang terjadi di Jalur Gaza.

Dalam khutbah jumat yang disampaikan di ibutkota Qatar, Yusuf Al-Qardlawi mengatakan bahwa sebagian pemimpin Arab berharap Israel menang dalam agresinya untuk mengalahkan gerakan perlawanan Islam Hamas. Namun ia menegaskan bahwa kebenaran lah yang akan menang dan yang dianggap dan dinilai adalah di akhir perang dan pertempuran. Dimana terbukti yang memenangkan adalah perlawanan Palestina.

Qardlawi menegaskan bahwa yang menjadi kepentingan utama pemimpin-pemimpin Arab adalah jabatan yang mereka sembah selain Allah. Ia menambahkan, para pemimpin Arab tidak menciptakan cita-cita umat. Ia mengingatkan tentang ketegaran Gaza dalam menghadapi kejahatan Israel. Qardlawi menegaskan bahwa target Israel dalam agresi di Jalur Gaza adalah menghabisi Hamas namun Allah menjaga dan menyelamatkan mereka.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

JALINAN UKHUWAH


ShoutMix chat widget